KESEHATAN REPRODUKSI

Posted: Januari 26, 2013 in Uncategorized

Pengertian Kesehatan Reproduksi

– Pada tulisan tentang pengertian kesehatan reproduksi ini akan dipaparkan tentang defSSSSinisi kesehatan reproduksi wanita dan juga menerangkan indikator kesehatan reproduksi wanita. Selain itu artikel ini juga akan mengupas tuntas mengenai kesehatan reproduksi pada wanita, serta mempertegas batasan-batasan ruang lingkup kesehatan reproduksi.

Dari berbagai artikel yang dapat dengan mudah ditemukan di internet, maka didapatkan pengertian kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Dalam pengertian kesehatan reproduksi ini ditemukan berbagai hal yang tercakup didalamnya tentang berbagai hal sebagai berikut ini:

  1. Hak seseorang untuk dapat memperoleh kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta mempunyai kapasitas untuk bereproduksi;
  2. Kebebasan untuk memutuskan bilamana atau seberapa banyak melakukannya;
  3. Hak dari laki-laki dan perempuan untuk memperoleh informasi serta memperoleh aksebilitas yang aman, efektif, terjangkau baik secara ekonomi maupun kultural;
  4. Hak untuk mendapatkan tingkat pelayanan kesehatan yang memadai sehingga perempuan mempunyai kesempatan untuk menjalani proses kehamilan secara aman.

Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi yaitu :

  • Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil).
  • Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dsb).
  • Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita pada pria yang membeli kebebasannya secara materi, dsb).
  • Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dsb).

Kesehatan reproduksi wanita – Kemungkinan besar kita mengetahui bahwa defenisi kesehatan reproduksi wanita ialah sebagai keadaaan kesejahteraan fisik, mental, sosial yang utuh dalam segala hal yang sangat berkaitan dengan sistem fungsi dan proses reproduksi. Kesehatan reproduksi wanita, terdapat 4 hal pokok yang penting didalamnya :

  • kesehatan reproduksi dan seksual
  • penentuan dalam keputusan reproduksi
  • kesetaraan pria dan wanita
  • keamanan reproduksi dan seksual

Penyebab Masalah Kesehatan Reproduksi Wanita

Berikut adalah penyebab-penyebab permasalahan kesehatan reproduksi wanita saat ini :
Pendidikan yang rendah
Tingginya tingkat kemiskinan juga sangat mempengaruhi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Semua tergantung dari tingkat kemampuan masalah biaya. Dari kebanyakan orang menilai bahwa laki-laki lebih perlu mendapatkan pendidikan daripada wanita, itu disebabkan karena faktor kemiskinan. Sehingga mereka menilai bahwa seorang wanita itu tidak perlu dengan pendidikan yang tinggi. Padahal seseorang yang memiliki pendidikan yang tinggi mempunyai daya tangkap atau mempunyai pengertian yang lebih besar terhadap semua masalah, terutama masalah kesehatan dan bisa ikut serta dalam mengambil keputusan dalam keluarga dan masyarakat. Dengan pendidikan yang memadai, wanita pun dapat mengetahui dengan bijaksana pentingnya merawat daerah kewanitaan serta menghindari banyak masalah yang berkaitan dengan hal tersebut.

Kemiskinan
Masalah ini juga bisa mengakibatkan antara lain:

  • makanan yang tidak cukup asupan gizinya juga bisa mempengaruhi tingkat pemikiran
  • persedian air bersih yang sangat kurang, kurangnya sanitasi air dan daerah pemukiman yang buruk juga bisa mempengaruhi daya pemikiran yang kurang baik
  • kurangnya pelayanan yang baik secara dari medis umum ataupun layanan masyarakat, bisa juga dikatakan jauh dari perhatian sehingga bisa mengakibatkan lambatnya cara berfikir.

Pernikahan Dini
Seperti yang selalu kita lihat, di era saat ini sudah terlalu banyak kita lihat banyaknya wanita yang melakukan kawin terlalu muda (dibawah usia 18 tahun). Hal ini sudah sering terjadi, faktor-faktor ini juga sangat mempengaruhi pola pemikiran. Wanita yang menikah sangat muda, berarti resiko terbesar pun bisa terjadi. Wanita muda hamil mempunyai resiko tingkat kematian dua kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang menikah usia diatas 20 tahun dan dapat merusak reproduksi wanita. Dampak lain juga, akibat mereka putus sekolah, pada akhirnya mereka selalu bergantung kepada suami dalam perekonomian keluarga dan dalam mengambil keputusan.

Kekurangan gizi dan kesehatan yang buruk
Saat ini di negara kita sangat banyak penduduk tumbuh tidak sempurna karena kurangnya gizi dalam makanan pada masa anak-anak akibat besarnya tingkat kemiskinan.  Kekurangan gizi berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi wanita karena sebenarnya wanita yang sudah mengalami menstruasi akan membutuhkan gizi banyak bahkan sampai 3 kali lebih besar dari pada pria untuk menggantikan darah yang keluar. Kurangnya gizi juga bisa membahayakan perkembangan otak janin dan fisik janin. Wanita juga sangat rentan terhadap bakteri karena kebanyakan dari wanita bekerja berhubungan dengan air, misalnya mencuci, memasak, dan sebaginya. Seperti yang kita ketahui bahwa air adalah media yang sangat cepat dan sangat berbahaya dalam penularan bakteri yang bisa menimbulkan penyakit.

Beban kerja yang berat
Pada umumnya waktu wanita bekerja lebih banyak dari pada waktu kerja pria. Akibatnya wanita hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit untuk istirahat dan bisa mengakibatkan stres, kronis dan sebagainya. Kesehatan reproduksi wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu saja tetapi wanita juga harus tetap menjaga kesehatannya dengan menjalankan pola hidup yang baik.

Jadi betapa pentingnya kesehatan bagi seorang wanita terutama menjaga kesehatan reproduksi wanita. maka sejak dini kita sudah harus menjaga pola hidup sehat untuk diri, karena kesehatan wanita secara langsung sangat berpengaruh untuk kesehatan anak baik yang didalam kandungan atau anak yang telah lahir. kesehatan wanita sangat sering dilupakan. oleh sebab itu wanita selalu menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihapadi oleh seorang pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya.

KEPUTIHAN

Posted: Januari 26, 2013 in Uncategorized

Keputihan Pada Remaja

xxxxx Keputihan remaja merupakan hal umum dialami pada usia muda. Namun, justru karena dianggap biasa, karena keputihan mereka anggap penyakit ringan yang tidak perlu penanganan khusus, keputihan pada remaja sering tidak ditangani serius. Keputihan pada remaja yang tidak ditangani secara tepat dapat menjadi awal penyakit.

Keputihan merupakan keluarnya cairan berwarna putih dari vagina dengan bahan yang dikeluarkan terdiri atas lendir yang disekreasi oleh kelenjar-kelenjar di dalam rahim dan leher rahim, serta cairan yang keluar melalui dinding vagina dari jaringan di sekitarnya. Cairan tersebut juga bisa bervariasi dalam konsistensi (padat, cair, kental), dalam warna (jernih, putih, kuning, hijau) dan bau (normal, berbau).

Selain keputihan saat hamil, Keputihan pada remaja seperti apa yang perlu diwasapdai? Jika keputihan menyebabkan gatal-gatal dan nyeri di dalam vagina, atau di sekeliling saluran pembuka vulva inilah keputihan pada remaja yang perlu diwaspadai dan diobati tentunya. Keputihan pada remaja bisa diobati dengan cara medis maupun tradisional. Tapi akan lebih baik berkonsultasi secara medis terlebih dahulu untuk mengetahui jenis dan penyebab keputihan, barulah memilih pengobatan yang tepat.

Keputihan pada remaja biasanya disebabkan oleh cara merawat organ reproduksi yang kurang baik. Misalnya, mencucinya dengan air kotor, memakai pembilas secara berlebihan, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, tak sering mengganti pembalut. Karena itu, sangat penting bagi remaja untuk menjaga kebersihan organ kewanitaan mereka dengan cara yang tepat. Maka pengetahuan tentang sex dan penyakitnya sangat perlu disampaikan pada usia remaja agar mereka bisa menjaga kesehatannya dan mendeteksi gejala awal penyakitnya sehingga jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan agar mereka sadar akan pentingnya kesehatan daripada mengutamakan kecantikan wajahnya saja yang dipoles tapi kesehatan yang utama tidak diperhatikan.

REMAJA DAN PUBERTAS

Posted: Januari 26, 2013 in Uncategorized

Pengertian Remaja dan Pubertas

wwww

 

Remaja

Pengertian Remaja

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia Remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Remaja menurut BKKBN adalah penduduk laki-laki atau perempuan yang berusia 10-19 tahun dan belum menikah. Sedangkan menurut WHO adalah penduduk laki-laki atau perempuan yang berusia 15- 24 tahun ( BKKBN, 2003).
Remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif (Soetjiningsih, 2004).
Batasan remaja menurut WHO:
Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati sebagai berikut:
a. Masa remaja awal /dini (Early adolescence) umur 11 – 13 tahun.
b. Masa remaja pertengahan (Middle adolescence) umur 14 -16 tahun.
c. Masa remaja lanjut (Late adolescence) umur 17 – 20 tahun.
(Soetjiningsih, 2004).

Tahapan Remaja Laki-laki perempuan
Umur (tahun) Umur (tahun)
Pra remaja
Remaja Awal
Remaja Menangah
Remaja Akhir
<119-13
13-16
> 16
< 11
11-14
14-17
> 17

Tabel 2.1 Tahapan perkembangan remaja
Sumber : Dikutip dari PPFA, Adolescence Sexuality, 2001.

Ciri-ciri perkembangan remaja.
Dalam lingkungan sosial tertentu, masa remaja bagi pria merupakan saat diperolehnya kebebasan. Sementara untuk remaja wanita merupakan saat mulainya segala bentuk pembatasan.
Menurut ciri perkembangannya masa remaja dibagi menjadi tiga periode:
1)        Masa Remaja Awal ( 10-12 tahun), Ciri khasnya :

  • a)      Lebih dekat dengan teman sebaya.
  • b)      Ingin Bebas
  • c)      Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir abstrak.

2)        Masa Remaja Tengah (13-15 tahun), ciri khasnya :

  • a)      Mencari identitas diri.
  • b)      Timbulnya keinginan untuk kencan.
  • c)      Punya rasa cinta yang mendalam
  • d)     Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.
  • e)      Berkhayal tentang aktivitas seks.

3)      Masa Remaja Akhir (16-19 tahun), ciri khasnya :

  • a)      Pengungkapan kebebasan diri.
  • b)      Lebih selektif dalam mencari teman sebaya.
  • c)      Punya citra jasmani diri.
  • d)     Dapat mewujudkan rasa cinta.
  • e)      Mampu berfikir abstrak.

(BKKBN, 2003)

Pubertas
a. Pengertian

Beberapa pengertian mengenai pubertas yaitu:
Menurut Prawirohardjo (1999: 127) pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa.
Menurut Soetjiningsih (2004: 134) pubertas adalah suatu periode perubahan dari tidak matang menjadi matang.
Menurut Monks (2002: 263) pubertas adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual.
Menurut Root dalam Hurlock (2004) Pubertas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat–alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.

  1. Perubahan Fisik

Selama pertumbuhan pesat masa puber, terjadi empat perubahan fisik penting dimana tubuh anak dewasa: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, perkembangan ciri-ciri seks primer dan perkembangan ciri-ciri seks sekunder (Hurlock, 2004: 188).
Perubahan primer
Perubahan sekunder
Perubahan primer pada masa puber
Perubahan primer pada masa pubertas adalah tanda-tanda/perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia.
Pada pria – Gonad atau testis yang terletak di skrotum, di luar tubuh, pada usia 14 tahun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Kemudian terjadi pertumbuhan pesat selama 1 atau 2 tahun, setelah itu pertumbuhan menurun, testis sudah berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Kalau fungsi organ-organ pria sudah matang, maka biasanya mulai terjadi mimpi basah.
Pada wanita – Semua organ reproduksi wanita tumbuh selama masa puber, meskipun dalam tingkat kecepatan yang berbeda. Berat uterus anak usia 11 atau 12 tahun berkisar 5,3 gram, pada usia 16 rata-rata beratnya 43 gram. Tuba falopi, telur-telur, dan vagina juga tumbuh pesat pada saat ini. Petunjuk pertama bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi matang adalah datangnya menstruasi.(Hurlock, 2004: 210).

b. Perubahan sekunder pada masa pubertas

Perubahan sekunder pada masa pubertas adalah perubahan-perubahan yang menyertai perubahan primer yang terlihat dari luar.
1)      Pada perempuan: lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; pertumbuhan payudara; tumbuh bulu-bulu halus disekitar ketiak dan vagina; panggul mulai melebar; tangan dan kaki bertambah besar; tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar; vagina mengeluarkan cairan; keringat bertambah banyak; kulit dan rambut mulai berminyak; pantat bertambah lebih besar.
2)      Pada pria: lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; tangan dan kaki bertambah besar; pundak dan dada bertambah besar dan membidang; otot menguat; tulang wajah memanjang dan membesar tidak tampak seperti anak kecil lagi; tumbuh jakun; tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan; penis dan buah zakar membesar; suara menjadi besar; keringat bertambah banyak; kulit dan rambut mulai berminyak.(Sarlito, 2009: 1).
c. Perubahan Emosional/Psikologis
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “Badai dan Tekanan”, sesuatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pertumbuhan yang terjadi terutama bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk pada masa puber. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu (Hurlock, 2004: 212-213).
Masa remaja merupakan “badai dan tekanan”, masa stress full karena ada perubahan fisik dan biologis serta perubahan tuntutan dari lingkungan, sehingga diperlukan suatu proses penyesuaian diri dari remaja.
Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namum benar benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. (Nurfajriyah, 2009: 1).

Problematika Remaja dan Pubertas
Masalah Pubertas dan Cara Mengatasinya
Remaja adalah periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Pada masa ini seringkali timbul kesulitan serta perselisihan, satu diantaranya yang paling sering terjadi adalah perselisihan antara Anak dengan Orangtua. Hal ini terjadi karena secara fisiologis si anak sedang mengalami sesuatu yang baru dan meresahkan dirinya. Adapun faktor yang menyebabkan keresahan tersebut antara lain adalah aktifitas hormonal pada usia puber juga faktor emosional, psikologis dan sosial.
Periode Yang Terjadi pada Masa Pubertas

1)      Periode Depresi :
Periode ini biasanya akan berlangsung sekitar seminggu atau lebih, namun apabila depresi sudah terasa tidak wajar lagi (terjadi sampai berlarut-larut) mungkin ini disebabkan karena kecemasan atau kesulitan emosional. Biasanya anak yang mempunyai sifat tertutup (introvert) cenderung mengalami depresi yang lebih lama bila dibandingkan dengan anak yang mempunyai sifat terbuka (extrovert), karena anak introvert tidak bisa mengungkapkan apa sebenarnya yang menjadi akar dari kecemasan serta kesulitan emosionalnya itu kepada orang lain.
2)      Periode Kecemasan :
Pada periode ini Remaja seringkali bersikap tidak biasa, seperti : cepat tersinggung, sangat agresif, suka menggerutu dan kasar atau kadang yang terjadi justru kebalikannya : bersikap kekanakan serta sangat tergantung kepada Orangtuanya.
3)      Periode Kerewelan :
Umumnya periode ini ditemukan pada Remaja Putri, misalnya dalam hal memilih pakaian, ataupun memilih makanan. Pada periode ini kaum Remaja Putri ada yang melakukan “diet ketat” untuk menjaga keindahan tubuh dan penampilannya, tapi ada juga yang justru melakukan sebaliknya yaitu lebih rakus dan tidak perduli pada penampilan.
4)      Periode Pembangkangan :
Seringkali Remaja seakan menjadi tidak patuh kepada apa yang menjadi aturan Orangtuanya. Sepanjang tidak melanggar norma Agama, Kesusilaan dan juga tidak membahayakan bagi keselamatan serta kesehatan dirinya, Orangtua sebaiknya bisa bertindak lebih bijak untuk memberi kesempatan kepada Remaja agar ia dapat mengambil keputusan sendiri serta bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Hal ini selain dapat menambah rasa percaya diri Remaja tersebut sekaligus juga bisa menghindari timbulnya pertengkaran (konflik) yang berkepanjangan antara Orangtua dengan Anak.
5)      Periode Ingin Tampil Beda :
Kebanyakan para Remaja mengalami periode ini, antara lain bisa terlihat dari caranya berpakaian, bergaya, berbahasa dan masih banyak lagi.
Sepanjang yang dilakukannya tidak bertentangan dengan norma Agama, Kesusilaan serta tidak membahayakan bagi diri Remaja tersebut, sebaiknya Orangtua tidak perlu merasa cemas. Mereka melakukan hal ini hanya karena sedang dalam tahap mencari identitas diri, dan ingin diterima dengan baik sebagai anggota kelompoknya.Seiring dengan bertambahnya usia, perlahan-lahan semua itu akan hilang dengan sendirinya.

Cara Menanggulangi Masalah Remaja Pubertas

  1. Orangtua sebaiknya jangan membahas suatu masalah dengan cara sikap seolah sedang menginterogasi atau mendoktrin, karena hal ini akan membuat Remaja tersebut semakin takut untuk mengemukakan apa yang sedang dirasakannya dan itu akan mengakibatkan semakin jauhnya jarak antara Orangtua dengan Anak.
  2. Sebaiknya ajaklah Remaja tersebut untuk berbicara dari hati ke hati dan dalam suasana yang santai, bahkan tak ada salahnya apabila dalam pembicaraan tersebut sesekali diselingi juga dengan gurauan ringan.
  3. Ciptakanlah suasana demokratis dalam rumah tangga, dimana semua anggota keluarga bisa mengemukakan pendapatnya, tanpa harus merasa malu apalagi takut dengan anggota keluarga lainnya, terutama kepada Orangtua.
  4. Biasakanlah dalam keluarga untuk saling menghargai serta menghormati pendapat orang lain, tanpa memandang apa jenis kelamin serta usianya.

Perubahan yang terjadi ketika pubertas
1) Perubahan Biologis. Terjadi perubahan neurosekretori dan hormonal, percepatan pertumbuhan tubuh (somatic growth) dan inisiasi perkembangan kelenjar di organ reproduksi seksual. 2) Aktivasi aksis hipothalamus-hypofisis-gonad. Terjadi induksi dan peningkatan sekresi hormon seks di ovarium dan testis. Aktivasi aksis ini bertanggungjawab terhadap perubahan biologis, morfologis dan psikologis manusia pada masa pubertas. 3) Produksi hormon seks steroid. Hormon seks steroid bertanggungjawab dalam munculnya karakter seksual pria dan wanita. Selain itu berperan dalam pemeliharaan karakter tersebut dan berpengaruh terhadap kapasitas/kemampuan reproduksi.

Peristiwa Adrenarche menyebabkan pertumbuhan rambut pubis dan ketiak
Setelah lahir dan sebelum pubertas, adrenal hanya menghasilkan sedikit hormon dehidroepiandrosteron (DHEAS) yaitu salah satu jenis hormon androgen. Hormon DHEA ini mulai meningkat usia 6 tahun pada wanita dan 8 tahun pada pria. Sekitar 1-2 tahun berikutnya, adronestenesdion juga ikut meningkat secara signifikan. Hormon-hormon tersebut bertanggungjawab terhadap perkembangan rambut-rambut di aksila dan pubis sebagai salah satu ciri seks sekunder. Secara visual baru nampak signifikan pada usia 10-11 tahun pada wanita dan 11-12 tahun pada pria. Yang menarik, adrenarche tidak menentukan waktu dimulainya pubertas pada seseorang.

Pubertas pada Wanita
Pubertas diawali dengan sekresi gonadotropin di hipofisis posterior. Hipofisis karena sebab yang masih belum diketahui, tiba-tiba menjadi responsif terhadap perangsangan gonadotropin releasing hormon (GnRH) dari hipothalamus. Hormon LH meningkat kadarnya secara progresif lebih awal daripada hormon FSH. Peningkatan hormon LH dan FSH secara signifikan terjadi sekitar usia 10-11 tahun. Hormon LH dan FSH akan menstimulasi proses perkembangan ovarium sehingga menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Selanjutnya terjadi perubahan di endometrium secara periodik yang mengawali peristiwa menstruasi pertama kali (menarche) dan pertumbuhan payudara (telarche).

Pubertas pada Pria
Sama seperti pada wanita, pada pria hipofisis tiba-tiba menjadi responsif terhadap GnRH. Hormon LH dan FSH meningkat secara signifikan pada usia 11-12 tahun. Hal ini bersamaan dengan perkembangan ukuran testis yang pesat yang dimulai pada awal pubertas.